Kiprah Tukang Pijat di Balik Suksesnya Tim Sepakbola

Discussion in 'Health & Medical' started by yungga19, Dec 22, 2015.

  1. yungga19

    yungga19 Active Member

    Joined:
    Nov 28, 2015
    Messages:
    1,455
    Likes Received:
    85
    Trophy Points:
    48
    Keberadaan tukang pijat dalam sebuah tim sepakbola mungkin tidak pernah terekspos media seperti halnya pelatih atau para pemainnya. Tetapi jangan salah, peran tukang pijat dalam pemulihan cedera otot sangat menentukan keberhasilan tim.

    Contoh konkretnya bisa dilihat di tim sepakbola PSIM Yogyakarta yang pernah berlaga di level tertinggi kompetisi sepakbola Indonesia. Meski sudah degradasi dan kembali ke level di bawahnya, para penggemar tak pernah melupakan sosok Bang Udin. Bukan pelatih atau striker, dia 'cuma' tukang pijat.

    Bang Udin yang memiliki nama lengkap H Mahyuddin MD dikenal jago menyembuhkan cedera para pemain PSIM (Persatuan Sepak Bola Indonesia Mataram) Yogyakarta. Pada 2005 ia ikut berjasa mengantarkan tim ini promosi ke divisi utama PSSI, sebelum akhirnya 'pensiun' tahun 2007.

    Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada Oktober 2010 Bang Udin meninggal karena penyakit multiple myeloma (kanker pada sel-sel plasma di dalam sumsum tulang). Tempat praktiknya yang berlokasi di Karangwaru, Yogyakarta lantas dikelola oleh kedua anak lelakinya, Win (29) dan Huda (30).

    Win Mahmud Mauluddin, biasa dipanggil Mas Win merupakan anak kedua Bang Udin. Bungsu dari 2 bersaudara ini mengaku baru berpraktik sekitar 2 tahun. Ia mengisahkan, ayahnya adalah perantau dari Aceh yang belajar di IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    Modal Bang Udin ketika datang ke Yogyakarta adalah ilmu pijat yang diwarisinya dari kakek buyut. Ilmu itu diterapkan saat teman-temannya di perguruan silat Perisai Diri banyak yang cedera, lalu sembuh setelah dipijat. Dari situlah, kepiawaian Bang Udin 'mereparasi' sendi dan otot menyebar dari mulut ke mulut.

    "Bapak kan suka olahraga, salah satunya sepakbola. Karena sering nonton terus jadi kenal sama dokternya PSIM, namanya Dokter Anto. Tahu bapak bisa mijit, beliau diajak ngobatin pemain PSIM. Terus bapak ikut pertandingan ke mana-mana," ujar Win ketika ditemui detikhealth, seperti ditulis Rabu (14/11/2012).

    Ketika nama Bang Udin mulai dikenal di kalangan olahragawan Yogyakarta, Bang Udin lantas membuka klinik di daerah Karangwaru, Yogyakarta. Klinik inilah yang kemudian diteruskan oleh Win dan kakak sulungnya, Tanzirul Huda Nur Mahdi (30) alias Huda.

    Ditanya soal alat bantu yang digunakan, Win dan Huda mengatakan bahwa teknik pijatnya hanya membutuhkan tangan kosong. Kalaupun menggunakan lotion, itu hanyalah sebagai pelicin dan membuat pasien merasa nyaman karena tak dapat dipungkiri beberapa pasien akan merasakan kesakitan yang luar biasa ketika uratnya diperbaiki.

    "Kalau yang paling berat itu ya benerin engsel lepas tapi paling cuma 2-3 kali terapi. Barusan ada pasien dari Kalimantan minta dipijat karena matanya tak bisa menutup. Setelah 6 kali terapi selama 2 minggu, kondisinya mendingan baru dia bisa pulang," ungkap Mas Huda.

    Soal ongkos, Win dan Huda tidak menerapkan tarif tertentu dan hanya mengharapkan keikhlasan pasien. Biasanya pasien langsung memasukkan uang atau amplop ke laci besar yang menyatu dengan tempat duduk Huda dan Win ketika berpraktik.

    Meski sukarela, penghasilannya cukup banyak karena dalam sehari pasiennya bisa mencapai 100 orang.

    Ketika ditanya soal tingkat kesembuhan pasien, Win dan Huda kompak satu suara.

    "Orang yang sering keseleo itu berarti sama juga dengan tidak menjaga tubuhnya sendiri. Sendi yang habis dibenerin itu butuh waktu buat bisa pulih sepenuhnya, kalau belum pulih tapi sudah dipaksa kerja lagi ya gitu jadinya. Itu kembali ke orangnya masing-masing," tutur kakak beradik yang sama-sama berbadan subur tersebut.

    Win dan Huda juga tidak menggunakan rapalan mantra tertentu maupun teknik tenaga dalam dalam menjalankan praktiknya.

    "Bapak itu cuma pesan, kalau mau mijet ya baca Bismillah dulu. Gitu aja," tutur Huda.

    Huda juga mengaku sering diminta memijat hingga ke luar kota, terutama Jakarta dan beberapa kali ke Surabaya. Lulusan Ekonomi Manajemen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini juga ditawari untuk menjadi terapis di sejumlah klub sepakbola terkemuka di Yogyakarta tapi ia kurang berkenan karena ingin fokus pada klinik ayahnya.

    Meski sudah tidak menangani tim PSIM, nama Bang Udin dan kliniknya masih saja membekas di kalangan pecinta olahraga di Yogyakarta. Hingga saat ini, tak sedikit pelajar dan mahasiswa yang hobi olahraga menjadikan klinik ini sebagai 'rujukan' ketika mengalami cedera otot maupun sendi.

    sumber : detik.com
     
    Last edited: Dec 23, 2015
  2. KangAndre

    KangAndre Member

    Joined:
    Jan 25, 2014
    Messages:
    10,280
    Likes Received:
    2,723
    Trophy Points:
    413
    @Animoni Desain sekedar mengingatkan:
    2. Dilarang membuat ulang thread (postingan) yang sudah ada di forum ini (double post). Jika mengambil dari situs lain wajib merapikan postingan (tidak asal copas) serta menyertakan sumber jika bukan merupakan tulisan sendiri.
     
  3. firda63

    firda63 Member

    Joined:
    Dec 19, 2015
    Messages:
    760
    Likes Received:
    23
    Trophy Points:
    18
    itu tukang pijitnya dibayar gak nih sama manajemen tim ?? jangan kaya pemainya, upah tidak di bayar berbulan - bulan
     
  4. yungga19

    yungga19 Active Member

    Joined:
    Nov 28, 2015
    Messages:
    1,455
    Likes Received:
    85
    Trophy Points:
    48
    Thanks sudah diiangat kan ya ,.. segera di revisi
     
Loading...

Share This Page