Social Listening vs Social Monitoring: Apa Bedanya dan Kapan Harus Digunakan?

Discussion in 'General Internet' started by Dwi Aditya Herfiansyah, Jul 6, 2026 at 7:43 AM.

  1. Dwi Aditya Herfiansyah

    Dwi Aditya Herfiansyah Member

    Joined:
    Sep 19, 2014
    Messages:
    141
    Likes Received:
    6
    Trophy Points:
    18
    [​IMG]
    sumber: sonarplatform.com​

    Banyak brand masih menganggap social listening dan social monitoring sebagai hal yang sama. Keduanya memang sama-sama berhubungan dengan percakapan di media sosial, tetapi fungsi bisnisnya berbeda. Social monitoring membantu brand mengetahui apa yang sedang dikatakan orang dan meresponsnya. Social listening membantu brand memahami mengapa percakapan itu muncul, apa polanya, dan keputusan apa yang perlu diambil.

    Perbedaan ini penting karena percakapan digital di Indonesia sangat besar. DataReportal mencatat Indonesia memiliki 230 juta pengguna internet pada akhir 2025, dengan penetrasi 80,5%. Pada periode yang sama, ada 180 juta identitas pengguna media sosial aktif, setara 62,9% populasi. Artinya, persepsi terhadap brand dapat terbentuk dari komentar Instagram, video TikTok, thread X, ulasan Google Business Profile, forum komunitas, hingga review marketplace.

    Apa Itu Social Media Monitoring?
    Social media monitoring adalah proses melacak mention, komentar, pesan, tag, review, dan percakapan yang berhubungan langsung dengan brand. Fokusnya adalah respons cepat. Tim social media atau customer care biasanya menggunakan monitoring untuk membalas keluhan, menjawab pertanyaan, mengeskalasi masalah, dan memastikan tidak ada percakapan penting yang terlewat.

    Monitoring biasanya mencakup nama brand, variasi ejaan, nama produk, kompetitor utama, dan percakapan brand pada wilayah tertentu. Contohnya, jika seseorang menulis “produk Brand X error sejak update terakhir” tanpa menandai akun resmi, monitoring membantu tim menemukan percakapan itu dan merespons sebelum keluhan menyebar.

    Apa Itu Social Listening?
    Social listening adalah proses menganalisis percakapan yang lebih luas untuk menemukan pola, sentimen, tren, dan akar masalah. Jika monitoring bekerja di level percakapan individual, listening bekerja di level strategi.

    Misalnya, monitoring menunjukkan ada 50 keluhan tentang pengiriman lambat. Listening akan mencari tahu apakah keluhan itu berasal dari kota tertentu, produk tertentu, periode promo, partner logistik tertentu, atau ekspektasi pelanggan yang tidak sesuai dengan janji campaign. Dengan kata lain, monitoring menangani gejala; listening mencari penyebab.

    Dataxet Sonar juga menyebut social listening sebagai dasar predictive media intelligence karena brand tidak hanya melihat apa yang sudah terjadi, tetapi juga membaca arah pasar sebelum tren mencapai puncaknya.

    Contoh Nyata: Keluhan Produk atau Masalah Operasional?
    Bayangkan sebuah brand e-commerce meluncurkan produk baru. Monitoring menunjukkan banyak pelanggan membicarakan produk tersebut. Secara sekilas, campaign terlihat berhasil karena mention naik. Namun setelah dianalisis dengan listening, ternyata sebagian besar percakapan bernada negatif. Setelah ditelusuri lebih jauh, masalahnya bukan kualitas produk, melainkan keterlambatan pengiriman saat periode promo.

    Inilah contoh perbedaan praktisnya. Monitoring memberi sinyal awal: “banyak orang membicarakan produk.” Listening memberi insight bisnis: “masalah utama ada pada operasional pengiriman, bukan produk.” Dataxet Sonar menggunakan contoh serupa untuk menjelaskan bahwa monitoring melihat gejala, sedangkan listening mengungkap akar penyebab.

    Kapan Brand Harus Menggunakan Monitoring?
    Gunakan social monitoring ketika brand perlu merespons percakapan secara cepat dan terorganisir. Ini penting untuk customer service, community management, crisis response, dan engagement harian.

    Contoh penggunaan monitoring:

    • Membalas komentar pelanggan yang bertanya tentang stok produk.

    • Menangani keluhan pengiriman, refund, atau bug aplikasi.

    • Menemukan mention brand yang tidak menandai akun resmi.

    • Mengidentifikasi potensi krisis dari lonjakan komentar negatif.

    • Meneruskan pesan penting ke tim sales, HR, product, atau legal.
    Dataxet Sonar memberi contoh bagaimana brand dapat menggunakan sistem inbox terpusat, brand keywords, dan alert untuk menemukan percakapan langsung maupun tidak langsung, lalu mengarahkannya ke tim yang tepat.

    Kapan Brand Harus Menggunakan Listening?
    Gunakan social listening ketika brand perlu mengambil keputusan berbasis pola percakapan. Listening cocok untuk riset pasar, evaluasi campaign, analisis kompetitor, product development, dan brand health tracking.

    Contoh penggunaan listening:

    • Melihat sentimen publik terhadap campaign baru.

    • Menganalisis alasan pelanggan memilih kompetitor.

    • Menemukan fitur yang paling sering diminta pengguna.

    • Membaca tren industri sebelum dibuat menjadi konten.

    • Mengukur share of voice brand dibanding pesaing.

    • Menentukan pesan iklan berdasarkan masalah nyata audiens.
    Data global menunjukkan media sosial sudah menjadi ruang percakapan yang sangat besar. DataReportal mencatat ada 5,66 miliar identitas pengguna media sosial aktif secara global pada Oktober 2025, setara 68,7% populasi dunia. Skala ini membuat listening menjadi kebutuhan strategis, bukan sekadar tambahan untuk tim social media.

    Hubungannya dengan SEO dan Konten
    Social listening juga berguna untuk SEO. Google menyarankan konten dibuat untuk manusia, menunjukkan pengalaman atau kedalaman pengetahuan, dan membuat pembaca merasa cukup terbantu setelah membaca. Data listening dapat membantu content writer menemukan pertanyaan asli pelanggan, istilah yang benar-benar dipakai audiens, serta masalah yang belum dijawab kompetitor.

    Misalnya, jika banyak pengguna menulis “kenapa ongkir makin mahal?” atau “apa beda paket reguler dan hemat?”, pertanyaan itu bisa menjadi FAQ, artikel edukasi, landing page, atau konten comparison. Dengan cara ini, social listening membantu brand membuat konten yang lebih people-first, bukan hanya artikel berbasis keyword.

    Hubungan dengan Kepercayaan Brand
    Trust adalah alasan lain mengapa monitoring dan listening perlu berjalan bersama. Edelman Trust Barometer Special Report 2026 mencatat 88% responden menyebut kepercayaan terhadap brand sebagai kriteria pembelian yang penting atau kritis, hampir setara dengan kualitas dan value. Brand yang cepat merespons keluhan menunjukkan kepedulian. Brand yang menganalisis pola keluhan dan memperbaiki akar masalah menunjukkan komitmen.

    Kesimpulan
    Social monitoring dan social listening bukan pilihan salah satu. Monitoring membantu brand hadir dalam percakapan hari ini. Listening membantu brand memahami arah percakapan besok. Monitoring membuat brand responsif; listening membuat brand strategis.

    Brand yang matang secara digital membutuhkan keduanya. Mulailah dari monitoring untuk memastikan tidak ada keluhan penting yang terlewat. Setelah itu, gunakan listening untuk membaca pola, menemukan akar masalah, memahami kompetitor, dan mengubah percakapan digital menjadi keputusan bisnis.
     
Loading...

Share This Page